Saturday, May 26, 2012

it was a tasty sushi...

CLOSING SMANSA DAY 2012!!!

wohoo akhirnya bisa mengalami smansa day sampai tuntas, berhubung taun lalu ga nonton closing.. #curhat
semua berjalan mulus, muluuss....sampai akhirnya, closingnya udah sampe closing (penutupan maksudnya). dijemput, papa ternyata mau ada kerjaan dulu sm rekannya di Mirah. satu kata yg keluar dr mulut orang kelaperan: "sushiii!"

dan di situlah saya dan mama menunggu, ditemani dua porsi sushi yang terlihat (dan terasa) menggiurkan.
hap hap hap!

potongan pertama, aman. keempat, aman. ketujuh, masih aman. sampe akhirnya tinggal dua potong sushi berselimut mayo, menunggu sumpit untuk melepaskan sepi *galau*
daaan, hap. kunyahkunyahkunyah

CTAK! wait.
apaan nih kok kayak ada yg nancep?

tiga detik kemudian, "*^&@*!&@^????"
kawatku tersayang, nancep ke gusi dengan indahnya. seolah sate yang lagi ditusuk. paniiiiik!!! capcus ke sebuah rumah sakit tak jauh dari situ...

"dek, kok gelap ya??"
"iya ma huhu"
*le wild satpam appears*
*manggil* "pak pak, *piiip*nya udah tutup?"
"oh iya bu, seharusnya kami tutup jam 9, tapi karena tak ada pasien lagi, kami tutup setengah jam lebih cepat..."
jujur, kecewa mah kecewa kali.

akhirnya mampir lagi ke rumah sakit tempat dulu saya dilahirkaan, Azra.
dibawa ke IGD, disuruh timbang berat, terus dibaringin di salah satu bangsal tepat di depan pintu samping.

"wah ini mah susah bu....kebetulan dokter ortodentik kami sudah pulang, dan kami tidak punya alatnya..."
"tapi kalau ditunggu sampai senin, kemungkinan terjadi infeksi...." *sial amat ketancepnya malam minggu, kelabu sekali*

bagi saya ga masalah sih tunggu smp hari senin, daripada akhirnya ga ada alat, eh minjem tang bengkel deket situ. okelah...
dokternya ijin sebentar ke pasien lain. saya masih terbaring. agak lebay juga, kesannya korban tabrak lari gitu. padahal ini bukan penyakit parah, malah cenderung fail.

tiba-tiba, dateng seorang wanita setengah baya, buka pintu samping yang letaknya emang tepat di depan saya.
"sus, boleh dibantu?" tanyanya ramah memanggil suster di dekat situ. "ayah saya pingsan sepulang dari BMC tadi. beliau kena stroke"
ga berapa lama, petugas medis langsung bawa dorongan dan mengangkat ayah wanita tadi. seorang kakek-kakek, ga sadarkan diri. saya sempat melihatnya, sesaat sebelum beliau dibaringkan di bangsal sebelah saya. beliau kurus sekali.....

karena emang bersebelahan, semua tindakan di bangsal sebelah terdengar. mereka memasang oksigen. mereka memeriksa denyut jantung. seseorang menerima telpon, "ga sempat balik ke BMC, terlalu lama"

semua percakapan itu, sampai akhirnya kami memutuskan untuk pulang, karena memang ga ada tindakan yang bisa dilakukan sekarang (karena itu juga kami dibebaskan dari administrasi RS)

setelah beberapa langkah keluar dari pintu IGD, terdengar suara tangis. penasaran, kami akhirnya berdiri di dekat situ.

ternyata benar. kakek tadi sudah tiada.
ini pertama kalinya saya mengalami hal seperti itu.

sampai di rumah, saya mulai merenung.
kematian itu, dekat. bahkan untuk seseorang yang tidak saya kenal, saya merasa ikut terbawa dalam suasana duka cita itu. suara tangis masih terngiang sampai sekarang. suara tangis keluarga, dan anak yang tadinya merasa bahwa ayahnya hanya tak sadarkan diri untuk sementara. adakah penyesalan?

kematian itu, dekat. lebih dekat apabila kita tidak mengingatnya.

sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak meremehkan suatu penyakit, seringan apapun itu.
seperti insiden kawat nancep ini.

menjelang malam di kamar mandi, menghadap kaca. perlahan saya tarik kawat tersebut, hingga akhir batasnya.

No comments:

Post a Comment